Tampilkan postingan dengan label akademi jepara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akademi jepara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Juli 2017

, , , , , ,

Rasa Ini


Oleh : Havidz Antonio

Tak mudah untuk mengakui bahwa jantung hatiku telah pergi. Rasanya baru kemarin kita ke pantai dan mandi di sana. Berenang menerobos ombak dan duduk di atas karang, kaki menjuntai ke dalam air, mata jauh memandang ke kaki langit. Kudengar gemerisik daun kelapa mendesau-desau. Angin yang sepoi-sepoi menggelindingkan pasir-pasir putih seolah butiran mutiara yang disinari cahaya. Namun semua itu hanya salah satu kenangan indah saat bersamanya.

Kini, dia pergi terlalu cepat. Terlalu cepat sebelum aku merasakan peluk mesra kehangatannya.
***
“Namaku Gio. Cukup Gio. Aku pindahan dari SMA 1 Jakarta. Kesan yang menyenangkan bisa berkenalan dengan kalian. Semoga kita bisa berteman baik dan saling membantu.”

Setelah memperkenalkan dirinya, Gio dipersilakan duduk di bangku yang kosong. Bangku itu berada di samping bangku Rini. Rini hanya bisa pasrah bangku itu diduduki Gio. Dulunya bangku itu diduduki Azzam, yang tidak lain adalah pacar Rini, yang kini telah pergi ikut orangtuanya ke Italia.

Gio orang yang pragmatis. Ketampanannya melebihi ketampan cowok lain di kelas itu. Sekarang saja seluruh cewek (kecuali Rini) di kelas XII IPA 2 itu diam-diam meliriknya. Kulitnya putih dan tampak bersinar-sinar seperti tersiram cahaya rembulan. Bibirnya merekah indah. Tubuhnya tegap dan tinggi.

Seluruh cewek di kelas itu gempar. Semua mata cewek di situ tersihir dengan ketampanan Gio. Rini juga terpesona, tapi dia bukan tipe cewek yang bakal jatuh hati dengan sekali pandang. Apalagi dia masih menyimpan rasa pada seseorang yang tempat duduknya sekarang diambil alih oleh Gio.

Banyak yang memandang iri pada Rini yang bisa duduk di samping Gio. Tapi Rini sendiri biasa saja. Meski tidak bisa dipungkiri, Gio adalah cowok tertampan yang pernah dilihatnya. Namun toh Rini tidak berniat untuk mendekati Gio. Karena hatinya masih tertambat pada sosok Azzam.

Ketika jam istirahat, Rini seperti mendapat durian runtuh. Banyak teman ceweknya memohon-mohon pada dia supaya mau menukar tempat duduknya. Ada yang mau beri seluruh koleksi kaset lagu India jika Rini mau. Ada yang sedia mentraktir mie ayam selama sebulan. Pokoknya macam-macam yang janji, bakal rugi kalau ditolak. Tapi Rini tidak enak hati dengan teman-temannya.

“Teman-temanku yang cantik. Sungguh sulit sekali menolak tawaran kalian yang mengggiurkan. Tapi jika aku milih satu di antara kalian, nanti yang lain iri. Aku tidak mau berat sebelah. Kalian semua temanku.”

Itu pilihan yang bijak menurut Rini.
***
Saat yang menyenangkan ketika berangkat sekolah adalah ketika melihat hamparan sawah yang hijau, menghampar bagai beludru, membentang di kiri-kanan jalan. Tempat tinggal Rini berada di kawasan pedesaan yang jauh dari polusi asap knalpot dan pabrik. Anginnya masih sangat sejuk. Pemandangannya begitu ndah. Daun-daun yang masih basah oleh embun. Burung-burung sawah yang mengincar padi para petani. Dan anak-anak sekolah yang berangkat sekolah dengan berjalan kaki ataupun naik kereta angin.

Rini berjalan tidak seperti biasanya. Biasanya dia berjalan bersama Azzam sambil ketawa-ketiwi. Kini dia sendiri.

Suara motor yang tadi terdengar dari kejauhan tiba-tiba berhenti di belakang Rini. Rini menoleh. Dia tidak menyangka kalau itu Gio.

“Perlu tumpangan?” kata Gio singkat.

Ketampanan Gio di pagi hari benar-benar seperti malaikat turun dari langit. Rini bersusah payah agar tidak terlihat tergoda. Rasanya kalau melihat Gio, Rini bisa melupakan Azzam sesaat.

“Tidak usah, terima kasih,” kata Rini. Sebenarnya hati kecilnya memberontak, ingin menerima tawaran itu.

“Oh, begitu,” kata Gio singkat. Dia menghidupkan motornya, sebuah motor tiger yang sebenarnya agak berlebihan jika dipakai di pedesaan seperti ini.

“Siapa namamu? Kita sebangku, kan?”

“Rini.”

“Sampai ketemu di sekolah, Rini,” ucap Gio lalu melajukan motornya.

Rasanya ada sesuatu yang berbeda, yang mendekam ke hati Rini. Rasa apa itu? Rini juga tidak tahu.
***
Meskipun Rini dan Gio duduk bersampingan tetapi mereka jarang sekali bicara. Selain memang tidak ada topik yang perlu dibicarakan, Rini juga canggung karena mata teman-temannya tidak mau jauh-jauh dari Gio.

“Rin, kamu punya catatan yang tadi dibahas?” kata Gio tiba-tiba. Rini mengangguk.

“Boleh aku pinjam?”

“Boleh.”

Rini mengambil buku catatan fisika dari dalam tasnya lalu menyerahkan ke Gio. Gio berterima kasih sambil senyum. Senyum yang benar-benar manis. Rini berusaha untuk tidak bersemu merah. Untungnya Pak Imron segera datang. Jadi dia punya alasan untuk tidak berlama-lama bicara dengan Gio.

Jam istirahat Rini mau pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang dipinjamnya. Lagi-lagi dia ketemu Gio. Dan setiap kali bertemu Gio, Rini merasa rasa itu selalu muncul. Mendadak memori tetang Azzam menghilang.

Gio seperti presiden saja, selalu dikawal mata cewek-cewek seantero, mulai dari kelas satu sampai penjaga perpustakaan, Mbak Yeni. Rini hanya mendesah melihat tingkah cewek-cewek itu.

“Ketemu lagi,” kata Gio.     
  
Rini hanya senyum menanggapinya.
“Sedang cari buku apa?” tanya Gio.

“Buku fisika buat tugas tadi. Kamu sendiri cari apa?” Rini tanya balik sambil curi-curi pandang pada cewek-cewek yang ngekorin Gio. Rini tidak mau nanti digantung sama fans-fans Gio itu.
 “Sama.”

Ternyata buku fisika yang sedang mereka cari cuma tinggal satu. Itu pun mereka dapetinnya bareng.

“Buat kamu saja,” kata Gio.
“Nggak usah, buat kamu saja. Kamu anak baru kayaknya lebih butuh.”
“Oke, kita pakai bersama saja. Saling gantian,” kata Gio.
***
Saat pulang sekolah, tiba-tiba kaki Rini kesleo. Rasa sakitnya sampai bikin Rini jalan terseok-seok. Untungnya ada Gio yang tidak sengaja melihatnya.

“Ayo bareng,” ajak Gio.
“Eh, nggak usah, terima kasih.”
“Kakimu sakit, lho.”
“Masih bisa jalan, kok.”
“Jangan maksa gitu. Nanti tambah sakit. Ayo naik.”

Akhirnya Rini kekeuh juga. Dan rasa aneh itu kembali muncul. Segala tentang Azzam mendadak punah.

Gio mengemudikan motornya tidak sekencang tadi pagi. Sepertinya dia tahu Rini takut kalau diajak naik motor cepat-cepat.

Gio mengantarkan Rini hingga sampai di depan rumahnya.
“Makasih, ya,” ucap Rini tulus.
“Sama-sama. Aku cabut dulu, ya.”
Dalam waktu yang singkat Gio sudah tidak terlihat lagi. Setelah itu Rini kembali teringat Azzam.
***
Rini paling suka nongkrong di atas pohon mahoni yang tumbuh di atas bukit hijau. Dulu waktu masih ada Azzam, tempat itu ramai oleh canda tawa mereka. Sekarang tempat itu sepi. Tinggal kenangan yang dirasakan Rini. Sore itu Rini ingin menghabiskan waktu untuk mengenang Azzam.

“Melamun sendiri di atas pohon nggak baik, lho. Mau aku temenin?” Suara seseorang mengagetkan Rini dari lamunannya.
“Gio!!” ujar Rini terkaget. “Kok bisa sampai sini?”
“Kebetulan saja,” jawab Gio singkat.
“Ada jawaban lain?” protes Rini penuh selidik.
Gio menaiki tangga tali yang dibuat oleh Rini dan Azzam dulu. Tahu-tahu Gio sudah berada di samping Rini. Lagi-lagi rasa itu datang.
“Jadi?” Rini memulai.
“Baiklah,” Gio mengalah. “Sebenarnya aku ini sepupunya Azzam. Azzam meminta bantuanku supaya menjagamu.”

Rini terperanjat mendengar pengakuan Gio. Dia jadi ingat Azzam betapa dulu mereka bersama dari kecil. Banyak kenangan bersama Azzam.
Rini tercenung memikirkan Azzam.
“Apakah nantinya dia akan balik ke Indonesia?” tanya Rini dengan nada sedih.
“Iya, mungkin,” jawab Gio. “Kamu jangan sedih gitu.”
“Gimana nggak sedih. Aku sangat sayang dia.”
“Aku akan nemenin kamu. Jangan sedih lagi, ya?”   
Rini menyadari setelah kepergian Gio, dia jadi lebih cengeng. Rini yang dulu periang seolah lenyap.
“Aku punya sesuatu untukmu,” Kata Gio. Dia lalu mengambil sesuatu dari dalam tas yang disandangya.
“Gula jawa,” kata Rini berbinar.
“Kata Azzam kamu suka banget sama gula jawa.”
Rini mengangguk.
“Terima kasih.”
Rini menerima pemberian dari Gio itu. Dia senang.
Rasa itu perlahan-lahan tumbuh dalam hati Rini. Perasaan seperti yang sama dirasakannya ketika bersama Azzam.
“Gio.”
“Iya?”
“Terima kasih.”
Gio senyum.








 *** Cerpen ini dubuat tahun 2009/2010. Cerpen ini terinspirasi dari lagunya Band Viera yang judulnya sama dengan dengan judul cerpen. Sekarang Band Vierra ganti nama jadi Vierratile. (Havidz Antonio)

Senin, 17 April 2017

, , , , , , , ,

Arti Perjuangan



Oleh : Rif‘ati Ihsan

Aku mulai berjalan mendekati papan pengumuman di lorong gedung. Aku berusaha mengendap-endap di kerumunan orang. Aku mulai mencari namaku dari satu kolom ke kolom lain. Alhasil, namaku tidak tercantum di papan pengumuman. Tubuhku mendadak terasa lemas, tulang kaki seakan lunglai. Aku shock

Rabu, 14 Desember 2016

, , ,

Di Manakah Damai?


Bising. Suara-suara itu seperti monster yang sedang bertengkar, entah memperebutkan apa? Gaduh dan berantakan. Knalpot-knalpot kendaraan, deru mesin yang kasar dan menyebalkan. Berisik, berdengung seperti rumah-rumah lebah yang bergelantungan.

Tapi mama papaku telah memilih tempat ini sebagai sarang: tempat tinggal sekaligus workshop-nya. Tepi jalan yang menghasilkan uang memang. Tapi untukku adalah sumber penyakit. Pusing dan capek. Penyakit itu sepertinya terlalu sering datang padaku, entah karena bising kendaraan atau karena bising ortuku yang seringkali kudengar tiap malam.

Mamaku sering kudengar menangis. Sebuah tamparan yang menggetarkan kudengar suatu malam. Lalu suara lirih tertahan keluar dari mulut mama. Dari papaku terdengar juga suara minta maaf yang berat. Paginya, mamaku berubah jadi robot. Segala sesuatu dikerjakan tanpa banyak bicara, cepat namun tidak juga tergesa. Sarapan pagi kami, kopi pahit papa. Segalanya malah lebih terlihat rapi meski dikerjakan dengan mulut membisu, tanpa sedikitpun minta bantuan kami. Mungkin hatinya telah dibunuhnya sendiri, membiarkan segalanya datang dan pergi tanpa permisi. Tapi kehampaan jelas kulihat di raut mukanya.
, ,

Matahari


Matahari tersenyum di tengah jarum jam pukul dua belas. Keringat di musim panas itu mulai mengalir deras di sekujur tubuhnya. Kakinya yang kuat menapaki jalan dengan gendongan yang membulat dipunggungnya. Nenek tua itu tampak kelelahan. di bawah pohon jambu yang rindang Ia beristirahat. Wajahnya nampak pucat. Ia meneguk air minum dari botol yang mirip Aqua. Sampai langit berwarna kuning kemerahan, barulah Ia melanjutkan perjalanannya.

Tubuhnya yang kuat terlihat sedikit membungkuk akibat gendongan baju yang cukup berat. Demi sesuap nasi dan cucu kesayangannya. Ia tersenyum menikmati kehidupannya. Baginya matahari adalah sahabat lamanya. 
, , ,

Apa Yang Salah Dengan Cinta Ini?



Kuharap secangkir kopi sore ini dapat sedikit menenangkan pikiranku yang masih kalut setelah perdebatan sengit dengan sahabatku beberapa waktu lalu, hingga sekarang masih terbayang jelas.

"Seharusnya kamu putusin Arva dari dulu," bentak Me.
"Nggak segampang itu Me," sangkalku, "Banyak hal yang udah dia lakuin untuk keluargaku," aku tercekat, "Aku mencintainya. Maafin aku, Me."

Seketika kamarku hening. Hanya suara isak tangisku dan deru nafasnya. Setidaknya aku tahu kalau dia masih hidup setelah serangan jantung beberapa saat. Deg.
, , ,

Titik


Apakah kamu pernah merasakan dinginnya air hujan? Jika pernah seperti itulah aku. aku layaknya titik di sebuah paragaf. Aku tidak sendiri, temanku banyak dan kami selalu bersama. Meski jumlah kami sangat banyak. Tak jarang kami diabaikan karna kami hanya segerombolan titik yang terlihat mencair dan beku.

Manusia hitam itu memaksaku keluar dari tempat persembunyian. Tempat persembunyianku sangat gelap, mungkin dulu manusia sepertimu pernah tinggal di sana. Tapi aku tidak berbentuk manusia. Aku hanya titik yang bergerombolan dengan titik-titik yang lain.
, ,

Mematung


Aku sempat bertanya-tanya dengan apa yang berada di sampingku saat ini. Seperti benda mati, tetapi sangat menyerupai makhluk hidup. Jangan-jangan... ini kamu? Atau dia? Sepuluh menit lebih aku bergulat dengan perasaan dan pikiran . Berkarat dan gersang. 
"Apa ini? Ia memiliki mata!" seruku dalam hati. Benarkah itu mata? Tapi ia tak mengerling, tak sudi menatapku walau hanya sedetik saja.

Jumat, 09 Desember 2016

, ,

Setelah Hitam Berganti Biru


Aku menutup Buku Biru yang sudah dua tahun mendokumentasikan segala kisah tentangku. Tangis, tawa, susah dan bahagia menjadi pelajaran hidup yang tidak bisa dihitung dengan rupiah.

Buku Biru dikenalkan Hitam kepadaku sebagai teman bercerita, teman berkeluh kesah, dan teman beradu pendapat setelah ia pergi tanpa pamit. Status kekasih yang berubah menjadi mantan mungkin membuat ia terlampau sakit.

Sebagaimana aku yang juga sakit. Hampir setiap malam aku menulis sebait kisah, kemudian berbincang dengan Buku Biru. Bagiku, Buku Biru memiliki nyawa dan sosok yang sama seperti Hitam. Ia adalah tempat yang nyaman untuk bersandar dari segala lelah. Ia juga teman yang romantis untuk diajak bersama memandangi bintang di langit.

“Tulis saja apa yang kamu inginkan di buku ini, suatu saat kamu pasti akan mendapatkannya,” kata si Buku Biru kepadaku.

Aku mengerutkan dahi, berpikir memberikan gagasan yang logis, “Aku hanya ingin Hitam, mana bisa buku mewujudkan impian jika kita tidak berusaha.”

Entah takdir apa yang terjadi. Aku melihat Hitam tersenyum, memegang tanganku, memberikan buku biru dan pensil biru sampai aku benar-benar menggenggamnya. Kelak aku akan tahu, dia hanya ingin aku melangkah dengan teratur dan pasti. Mencatat setiap resolusi hidup yang aku bangun, kemudian belajar membuat keputusanku sendiri.


Ditulis oleh: Sinna Sa'idah AZ.

*Tulisan ini untuh memeriahkan #Event_Juang1 #FiksiMini (Kontes menulis khusus bagi peserta AMJ)
, , ,

Keajaiban Tuhan


Saat aku tahu dokter mendiagnosisku terkena kanker kulit. Hatiku hancur lebur, aku jatuh sejatuh-jatuhnya. Bahkan, aku merasa aku orang yang paling sial di dunia.
“Kenapa harus aku, Tuhan?” gerutuku dalam hati.

Bahkan, berhari-hari aku tidak keluar kamar. Aku bertekad aku akan mewujudkan cita-citaku untuk mengunjungi tujuh keajaiban dunia sebelum aku mati. Ini memang konyol bukan? kebanyakan penderita kanker pasti sibuk mencari jalan alternatif pengobatan, bahkan ada yang mencoba bertaubat. Namun, tidak denganku. Aku harus berjuang melawan penyakit mematikan ini. Aku memang dikenal perempuan yang berani. Hobiku memanjat tebing-tebing yang curam, dan mendaki gunung. Aku tahu usiaku tidak lama lagi. 
, , ,

Butiran Tasbih Tukang Sapu



Aku di pinggiran jalan sendiri berdiri sambil menunggu bis. Sorot mataku lurus tertuju pada perempuan paruh baya di seberang jalan sana. Terlihat dengan khusyu' ia menyapu setiap lembaran sampah yang berserakan. Sesekali ia mengelap keringat di dahi dengan handuk kecil yang disampirkan di belakang leher.

Terik mentari yang menyengat tidak menghanguskan semangatnya. Ia selalu melempar senyum kepada orang-orang yang lewat. Kendaraan yang melaju begitu kencang seringkali membuat sampah-sampah yang telah dikumpulkannya kembali berhamburan. Wajahnya malah tersenyum. Ia mengumpulkan lagi satu-persatu sampah tadi dengan sapu lidi.

Kamis, 08 Desember 2016

, , , , , , ,

Penulisan Judul yang Benar

Foto bersama sebelum pulang😍




Readers...
Maafin mimin baru sempat posting lagi. Sungguh maafkan.

Jadi pada hari Sabtu, 26-11-16 lalu, kelas diisi dengan agenda mengupas salah satu cerpen anggota kita yang bertajuk "Jumini" buah karya saudari Murni Newewe.

Cerita pendek yang mengisahkan seorang perempuan bernama Jumini tengah berjuang melewati cobaan diselingkuhi suami. Ia berupaya mempertahankan rumahtangganya biar apa pun yang terjadi. Namun ujian datang bertubi-tubi, seakan Tuhan benar-benar tak ingin Jumini jauh dari-Nya.
Kurang lebih kesalahan yang perlu diperbaiki adalah masih adanya beberapa kalimat kurang efektif, kemudian sedikit kata tidak sesuai ejaan bahasa Indonesia, bagian opening dan ending juga disebut-sebut kurang memikat. (Untuk mengupas tips opening dan ending yang memikat akan dibahas di lain waktu)
Namun, ide yang diangkat dalam cerita Jumini cukup baik; unik, berkarakter kuat, serta dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Member mendiskusikan cerpen "Jumini"

Sempat juga dipertanyakan kenapa judulnya Jumini? Bukan yang lain, atau minimal ditambahin beberapa kata. Misalnya, Jumini dan Saputangan Kenangan, atau Kekuatan Terpendam Jumini, jangan satu tok. Hal itu dijawab santai penulisnya, "Karena suka aja, kayak unik gitu, boleh, kan?"

Minggu, 04 Desember 2016

, , , ,

RASA TAKUT AKAN PENDERITAAN ITU LEBIH BURUK DARI PENDERITAAN ITU SENDIRI

Ilustrasi rasa takut, search image here

Dulu sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar, aku paling takut jika sudah waktunya datang yang namanya kunjungan "cutat", menyuntikan imun ke dalam tubuh (entah kalau di tempatmu apa namanya, imunisasi?). Tentu saja itu nampak mengerikan. Kau bisa bayangkan jarum segede itu menembus kulitmu. Maka jika petugas berbaju serba putih itu datang ke sekolah, aku dan teman-temanku sepakat untuk kabur dari sekolah.

Tentu kata kabur itu tidak semudah yang kita ucapkan. Pertama, petugas "cutat" itu datang secara mendadak, saat jam pelajaran tanpa kita sadari. Kedua, masyarakat sudah bersekongkol dengan pihak sekolah jika melihat kami kabur dari sekolah mereka wajib menggelandang kami ke sekolah.

Kata kakak-kakak kelas, "cutat" itu sangat menyakitkan, sakitnya bahkan bisa bertahan sampai berminggu-minggu. Membuat lenganmu bengkak. Aku membayangkan saja sudah ketakutan. Bagaimanapun aku dan teman-temanku harus kabur.
, ,

Harga Sebuah Restu

Ilustrasi jodoh, search image here

Aku baru saja menemukan kebahagiaan saat Mas Bambang mengatakan telah mendapat restu. Tidak mudah mendapatkannya. Banyak hal yang harus diperjuangkan. Misal, Mas Bams harus melewatkan waktu istirahat, mengabaikan jari-jari, bahkan kepalanya. Jangan heran dengan hal-hal yang aku sebutkan. Sebentar lagi kalian akan mengangguk mengerti.

Kakak tertuaku seorang desainer, agar menarik perhatiannya Mas Bams rela menuruti permintaan menjahit gaun pakai tangan. Permintaan konyol, tapi tetap dilakukan. Terkadang jarinya tertusuk jarum.

Kakakku yang nomor dua seorang koki, ia suka sekali menyuruh Mas Bams memasak di restoran miliknya.

Sedangkan kakak nomor tiga seorang polisi, dan biasanya Mas Bams menjadi latihan sasaran objek tembak. Sadis memang, tapi inilah wujud kekhawatiran mereka.
, , ,

Amanita Muskaria

Ilustrasi Amanita Muskaria, search image here

Ia membanting pintu besi begitu lemah. Tidak ada suara keluar seperti desingan peluru. Wajahnya terlihat pucat bersamaan kantung mata coklat kehitaman. Ia berlari dengan tubuh limbung. Beberapa kali menoleh ke belakang. Seakan ada sesuatu menakutkan tengah mengejarnya.

Di pinggiran jalan ia berhenti. Lampu-lampu menggantung seolah menghakiminya. Warna api. Sangat panas. Dan ia merasa ciut jika tubuhnya terlumat di atasnya. Agak bingung. Sorot mata tak ubahnya lampu mercusuar—mengamati klub malam yang beberapa hari lalu ditutup paksa. Sebuah papan, agak samar terlihat seolah membuat dirinya—huruf-huruf itu bergerak sembarang.

Senin, 21 November 2016

, , ,

Aku Hanya Seorang Pria Kesepian

Dokumen isimewa

Sepi, kujalani hari-hari
Pagi, siang, malam, terasa sunyi
Seperti hujan tanpa pelangi
Bagai malam tak berembulan. 

Kawan, kadang aku bertindak gila di depanmu
Berbuat onar, jahil tak karuan
Semata hanya untuk membuat kalian senang
Agar kalian tak meninggalkanku
Karena aku tak sanggup hidup sendiri

Minggu, 06 November 2016