Tampilkan postingan dengan label fiksimini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksimini. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Februari 2017

, , , , ,

Dua Pelukis




Oleh : Havidz Antonio

flickr.com


Sebuah Universitas besar di Semarang sedang mengadakan sebuah pameran lukisan yang diikuti banyak pelukis pemula. Dalam pameran tersebut seorang gadis TK sedang mengamati satu  lukisan. Sebut saja itu

Rabu, 14 Desember 2016

, , ,

Di Manakah Damai?


Bising. Suara-suara itu seperti monster yang sedang bertengkar, entah memperebutkan apa? Gaduh dan berantakan. Knalpot-knalpot kendaraan, deru mesin yang kasar dan menyebalkan. Berisik, berdengung seperti rumah-rumah lebah yang bergelantungan.

Tapi mama papaku telah memilih tempat ini sebagai sarang: tempat tinggal sekaligus workshop-nya. Tepi jalan yang menghasilkan uang memang. Tapi untukku adalah sumber penyakit. Pusing dan capek. Penyakit itu sepertinya terlalu sering datang padaku, entah karena bising kendaraan atau karena bising ortuku yang seringkali kudengar tiap malam.

Mamaku sering kudengar menangis. Sebuah tamparan yang menggetarkan kudengar suatu malam. Lalu suara lirih tertahan keluar dari mulut mama. Dari papaku terdengar juga suara minta maaf yang berat. Paginya, mamaku berubah jadi robot. Segala sesuatu dikerjakan tanpa banyak bicara, cepat namun tidak juga tergesa. Sarapan pagi kami, kopi pahit papa. Segalanya malah lebih terlihat rapi meski dikerjakan dengan mulut membisu, tanpa sedikitpun minta bantuan kami. Mungkin hatinya telah dibunuhnya sendiri, membiarkan segalanya datang dan pergi tanpa permisi. Tapi kehampaan jelas kulihat di raut mukanya.

Jumat, 09 Desember 2016

, ,

Setelah Hitam Berganti Biru


Aku menutup Buku Biru yang sudah dua tahun mendokumentasikan segala kisah tentangku. Tangis, tawa, susah dan bahagia menjadi pelajaran hidup yang tidak bisa dihitung dengan rupiah.

Buku Biru dikenalkan Hitam kepadaku sebagai teman bercerita, teman berkeluh kesah, dan teman beradu pendapat setelah ia pergi tanpa pamit. Status kekasih yang berubah menjadi mantan mungkin membuat ia terlampau sakit.

Sebagaimana aku yang juga sakit. Hampir setiap malam aku menulis sebait kisah, kemudian berbincang dengan Buku Biru. Bagiku, Buku Biru memiliki nyawa dan sosok yang sama seperti Hitam. Ia adalah tempat yang nyaman untuk bersandar dari segala lelah. Ia juga teman yang romantis untuk diajak bersama memandangi bintang di langit.

“Tulis saja apa yang kamu inginkan di buku ini, suatu saat kamu pasti akan mendapatkannya,” kata si Buku Biru kepadaku.

Aku mengerutkan dahi, berpikir memberikan gagasan yang logis, “Aku hanya ingin Hitam, mana bisa buku mewujudkan impian jika kita tidak berusaha.”

Entah takdir apa yang terjadi. Aku melihat Hitam tersenyum, memegang tanganku, memberikan buku biru dan pensil biru sampai aku benar-benar menggenggamnya. Kelak aku akan tahu, dia hanya ingin aku melangkah dengan teratur dan pasti. Mencatat setiap resolusi hidup yang aku bangun, kemudian belajar membuat keputusanku sendiri.


Ditulis oleh: Sinna Sa'idah AZ.

*Tulisan ini untuh memeriahkan #Event_Juang1 #FiksiMini (Kontes menulis khusus bagi peserta AMJ)
, , ,

Berakhirnya Cinta Sejati


Kupikir sudah tiba saatnya aku bercerita tentang mimpi demi mimpi yang pernah datang itu. Mimpi yang selama ini hanya aku dan Tuhan yang tahu. Mimpi yang hadir di saat aku merasa begitu jatuh di palung laut terdalam. Mimpi yang aneh, entah mengapa aku merasa itu bukan mimpi biasa, bukan pula sekedar mimpi seorang gadis yang sedang patah hati.

Kupikir sudah saatnya aku sampaikan padamu, agar aku merasa lega. Ya, kurasa itu alasan paling tepat. Meski terbersit sedikit rasa bangga karena ternyata ada ikatan batin yang begitu erat antara kita. Siapa tahu dengan mendengar mimpiku, kau akan terhibur. Tak melulu menangisi putusnya hubunganmu dengan calon istrimu.
, , ,

Keajaiban Tuhan


Saat aku tahu dokter mendiagnosisku terkena kanker kulit. Hatiku hancur lebur, aku jatuh sejatuh-jatuhnya. Bahkan, aku merasa aku orang yang paling sial di dunia.
“Kenapa harus aku, Tuhan?” gerutuku dalam hati.

Bahkan, berhari-hari aku tidak keluar kamar. Aku bertekad aku akan mewujudkan cita-citaku untuk mengunjungi tujuh keajaiban dunia sebelum aku mati. Ini memang konyol bukan? kebanyakan penderita kanker pasti sibuk mencari jalan alternatif pengobatan, bahkan ada yang mencoba bertaubat. Namun, tidak denganku. Aku harus berjuang melawan penyakit mematikan ini. Aku memang dikenal perempuan yang berani. Hobiku memanjat tebing-tebing yang curam, dan mendaki gunung. Aku tahu usiaku tidak lama lagi. 
, , ,

Butiran Tasbih Tukang Sapu



Aku di pinggiran jalan sendiri berdiri sambil menunggu bis. Sorot mataku lurus tertuju pada perempuan paruh baya di seberang jalan sana. Terlihat dengan khusyu' ia menyapu setiap lembaran sampah yang berserakan. Sesekali ia mengelap keringat di dahi dengan handuk kecil yang disampirkan di belakang leher.

Terik mentari yang menyengat tidak menghanguskan semangatnya. Ia selalu melempar senyum kepada orang-orang yang lewat. Kendaraan yang melaju begitu kencang seringkali membuat sampah-sampah yang telah dikumpulkannya kembali berhamburan. Wajahnya malah tersenyum. Ia mengumpulkan lagi satu-persatu sampah tadi dengan sapu lidi.
, , ,

Agama Baru

Ilustrasi, mencari yang baru, search image here.

"Berlutut!" kata Mia mengulangi disertai pandangan merobek jantung. "Berlutut dan meminta maaf di sana. Dengan begitu aku akan mengampunimu."
-
Mendapat tekanan besar, ditatap lurus seperti itu Mersi bergeming. 
-
"Kenapa? Kau merasa harga dirimu jatuh? Baiklah, kalau begitu aku akan membawa kasus ini ke pengadilan." 
Mersi menggigit bibir bawah, matanya memanas, perlahan ia menekuk kaki. Buku-buku jari miliknya terasa kebas, kemudian menjalar ke seluruh tubuh."
, , ,

Natasya


"Aku tau kau akan datang esok pagi, aku hanya berharap Tuhan mengantarmu datang,lalu menjagaku."

Aku berusaha secepat mungkin sampai di Semarang sebelum malam menjelang. Bus yang aku tumpangi dari Surabaya terus melaju menuju kota Semarang.

"Ah, ayolah Pak Sopir, buruan!" gerutuku dalam hati ketika laju bus berjalan pelan.

Wajah Natasya selalu membayangiku senyumannya yang selalu membuat aku merindukan saat-saat bersamanya.

Yah, dia Natasya, seorang gadis yang harus berjuang melawan penyakit kangker otak yang bersarang di kepalanya.