Bising. Suara-suara itu seperti monster yang sedang bertengkar, entah memperebutkan apa? Gaduh dan berantakan. Knalpot-knalpot kendaraan, deru mesin yang kasar dan menyebalkan. Berisik, berdengung seperti rumah-rumah lebah yang bergelantungan.
Tapi mama papaku telah memilih tempat ini sebagai sarang: tempat tinggal sekaligus workshop-nya. Tepi jalan yang menghasilkan uang memang. Tapi untukku adalah sumber penyakit. Pusing dan capek. Penyakit itu sepertinya terlalu sering datang padaku, entah karena bising kendaraan atau karena bising ortuku yang seringkali kudengar tiap malam.
Mamaku sering kudengar menangis. Sebuah tamparan yang menggetarkan kudengar suatu malam. Lalu suara lirih tertahan keluar dari mulut mama. Dari papaku terdengar juga suara minta maaf yang berat. Paginya, mamaku berubah jadi robot. Segala sesuatu dikerjakan tanpa banyak bicara, cepat namun tidak juga tergesa. Sarapan pagi kami, kopi pahit papa. Segalanya malah lebih terlihat rapi meski dikerjakan dengan mulut membisu, tanpa sedikitpun minta bantuan kami. Mungkin hatinya telah dibunuhnya sendiri, membiarkan segalanya datang dan pergi tanpa permisi. Tapi kehampaan jelas kulihat di raut mukanya.














