Perempuan cermin, search image here
Aku sudah terbiasa hidup dalam cermin. Mulanya aku menggunakan cermin sebagai tempatku bersembunyi dari kemarahan Ayah. Ayah tidak dapat menemukanku di dalam cermin. Berbeda dengan Ibu, ia dapat melihatku. Dengan wajah penuh lebam Ibu menangis dan menyuruhku bersembunyi dalam cermin. Bahkan sebelum kematiannya Ibu berwasiat agar aku tetap hidup di dalam cermin, bersembunyi dari Ayah yang kejam. Mulai saat itu cermin menjadi rumah bagiku.
Aku menemukan segalanya dari cermin. Aku melihat semua kepura-puraan manusia dengan cinta rupa kata tak bermakna. Aku tertawa bak anak kecil yang bermain dengan kawan sebayanya. Melihat kelucuan manusia membuatku enggan keluar dari cermin. Aku juga enggan merasakan cinta yang kupercayai sebagai sebuah kebohongan. Aku tak ingin berjodoh sampai benar-benar kutemukan lelaki yang dapat menjadi cermin bagiku.
