Tampilkan postingan dengan label fiksi mini cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi mini cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Desember 2016

, , ,

Apa Yang Salah Dengan Cinta Ini?



Kuharap secangkir kopi sore ini dapat sedikit menenangkan pikiranku yang masih kalut setelah perdebatan sengit dengan sahabatku beberapa waktu lalu, hingga sekarang masih terbayang jelas.

"Seharusnya kamu putusin Arva dari dulu," bentak Me.
"Nggak segampang itu Me," sangkalku, "Banyak hal yang udah dia lakuin untuk keluargaku," aku tercekat, "Aku mencintainya. Maafin aku, Me."

Seketika kamarku hening. Hanya suara isak tangisku dan deru nafasnya. Setidaknya aku tahu kalau dia masih hidup setelah serangan jantung beberapa saat. Deg.

Jumat, 09 Desember 2016

, , ,

Natasya


"Aku tau kau akan datang esok pagi, aku hanya berharap Tuhan mengantarmu datang,lalu menjagaku."

Aku berusaha secepat mungkin sampai di Semarang sebelum malam menjelang. Bus yang aku tumpangi dari Surabaya terus melaju menuju kota Semarang.

"Ah, ayolah Pak Sopir, buruan!" gerutuku dalam hati ketika laju bus berjalan pelan.

Wajah Natasya selalu membayangiku senyumannya yang selalu membuat aku merindukan saat-saat bersamanya.

Yah, dia Natasya, seorang gadis yang harus berjuang melawan penyakit kangker otak yang bersarang di kepalanya.

Minggu, 04 Desember 2016

, ,

Sepapan Kehidupan


Ilustrasi, Kakung. Search image, here.

Mengantarkan satu biji nangka ke dalam mulut dan menubruk sebingkai foto lawas hitam putih membawa Kakung pada kenangan.

"Mana uangnya, Pak?" sembari menengadahkan tangan.
"Maaf Bu, belum dikasih upah hari ini," segenap kelelahan alam raya menempel di wajahnya.
"Gimana tho Pak, Ibu sudah punya utang, malu Pak."
, ,

Harga Sebuah Restu

Ilustrasi jodoh, search image here

Aku baru saja menemukan kebahagiaan saat Mas Bambang mengatakan telah mendapat restu. Tidak mudah mendapatkannya. Banyak hal yang harus diperjuangkan. Misal, Mas Bams harus melewatkan waktu istirahat, mengabaikan jari-jari, bahkan kepalanya. Jangan heran dengan hal-hal yang aku sebutkan. Sebentar lagi kalian akan mengangguk mengerti.

Kakak tertuaku seorang desainer, agar menarik perhatiannya Mas Bams rela menuruti permintaan menjahit gaun pakai tangan. Permintaan konyol, tapi tetap dilakukan. Terkadang jarinya tertusuk jarum.

Kakakku yang nomor dua seorang koki, ia suka sekali menyuruh Mas Bams memasak di restoran miliknya.

Sedangkan kakak nomor tiga seorang polisi, dan biasanya Mas Bams menjadi latihan sasaran objek tembak. Sadis memang, tapi inilah wujud kekhawatiran mereka.
, , ,

Amanita Muskaria

Ilustrasi Amanita Muskaria, search image here

Ia membanting pintu besi begitu lemah. Tidak ada suara keluar seperti desingan peluru. Wajahnya terlihat pucat bersamaan kantung mata coklat kehitaman. Ia berlari dengan tubuh limbung. Beberapa kali menoleh ke belakang. Seakan ada sesuatu menakutkan tengah mengejarnya.

Di pinggiran jalan ia berhenti. Lampu-lampu menggantung seolah menghakiminya. Warna api. Sangat panas. Dan ia merasa ciut jika tubuhnya terlumat di atasnya. Agak bingung. Sorot mata tak ubahnya lampu mercusuar—mengamati klub malam yang beberapa hari lalu ditutup paksa. Sebuah papan, agak samar terlihat seolah membuat dirinya—huruf-huruf itu bergerak sembarang.
, , , ,

Perempuan Cermin

Perempuan cermin, search image here

Aku sudah terbiasa hidup dalam cermin. Mulanya aku menggunakan cermin sebagai tempatku bersembunyi dari kemarahan Ayah. Ayah tidak dapat menemukanku di dalam cermin. Berbeda dengan Ibu, ia dapat melihatku. Dengan wajah penuh lebam Ibu menangis dan menyuruhku bersembunyi dalam cermin. Bahkan sebelum kematiannya Ibu berwasiat agar aku tetap hidup di dalam cermin, bersembunyi dari Ayah yang kejam. Mulai saat itu cermin menjadi rumah bagiku.

Aku menemukan segalanya dari cermin. Aku melihat semua kepura-puraan manusia dengan cinta rupa kata tak bermakna. Aku tertawa bak anak kecil yang bermain dengan kawan sebayanya. Melihat kelucuan manusia membuatku enggan keluar dari cermin. Aku juga enggan merasakan cinta yang kupercayai sebagai sebuah kebohongan. Aku tak ingin berjodoh sampai benar-benar kutemukan lelaki yang dapat menjadi cermin bagiku.