Tampilkan postingan dengan label AMJ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AMJ. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Mei 2017

, , , , , , , ,

Lubang Paling Jahat

Oleh : Alvi Zahra Al-Alvia

Kita bersua, melangkah bersama
kau diam menerawang awan berarak
teriak dan tawa tak dapat kudengar
kau diam, aku sesak
 

Senin, 20 Februari 2017

, , , , ,

Dua Pelukis




Oleh : Havidz Antonio

flickr.com


Sebuah Universitas besar di Semarang sedang mengadakan sebuah pameran lukisan yang diikuti banyak pelukis pemula. Dalam pameran tersebut seorang gadis TK sedang mengamati satu  lukisan. Sebut saja itu

Rabu, 14 Desember 2016

, , ,

Di Manakah Damai?


Bising. Suara-suara itu seperti monster yang sedang bertengkar, entah memperebutkan apa? Gaduh dan berantakan. Knalpot-knalpot kendaraan, deru mesin yang kasar dan menyebalkan. Berisik, berdengung seperti rumah-rumah lebah yang bergelantungan.

Tapi mama papaku telah memilih tempat ini sebagai sarang: tempat tinggal sekaligus workshop-nya. Tepi jalan yang menghasilkan uang memang. Tapi untukku adalah sumber penyakit. Pusing dan capek. Penyakit itu sepertinya terlalu sering datang padaku, entah karena bising kendaraan atau karena bising ortuku yang seringkali kudengar tiap malam.

Mamaku sering kudengar menangis. Sebuah tamparan yang menggetarkan kudengar suatu malam. Lalu suara lirih tertahan keluar dari mulut mama. Dari papaku terdengar juga suara minta maaf yang berat. Paginya, mamaku berubah jadi robot. Segala sesuatu dikerjakan tanpa banyak bicara, cepat namun tidak juga tergesa. Sarapan pagi kami, kopi pahit papa. Segalanya malah lebih terlihat rapi meski dikerjakan dengan mulut membisu, tanpa sedikitpun minta bantuan kami. Mungkin hatinya telah dibunuhnya sendiri, membiarkan segalanya datang dan pergi tanpa permisi. Tapi kehampaan jelas kulihat di raut mukanya.
, , ,

Apa Yang Salah Dengan Cinta Ini?



Kuharap secangkir kopi sore ini dapat sedikit menenangkan pikiranku yang masih kalut setelah perdebatan sengit dengan sahabatku beberapa waktu lalu, hingga sekarang masih terbayang jelas.

"Seharusnya kamu putusin Arva dari dulu," bentak Me.
"Nggak segampang itu Me," sangkalku, "Banyak hal yang udah dia lakuin untuk keluargaku," aku tercekat, "Aku mencintainya. Maafin aku, Me."

Seketika kamarku hening. Hanya suara isak tangisku dan deru nafasnya. Setidaknya aku tahu kalau dia masih hidup setelah serangan jantung beberapa saat. Deg.
, , ,

Titik


Apakah kamu pernah merasakan dinginnya air hujan? Jika pernah seperti itulah aku. aku layaknya titik di sebuah paragaf. Aku tidak sendiri, temanku banyak dan kami selalu bersama. Meski jumlah kami sangat banyak. Tak jarang kami diabaikan karna kami hanya segerombolan titik yang terlihat mencair dan beku.

Manusia hitam itu memaksaku keluar dari tempat persembunyian. Tempat persembunyianku sangat gelap, mungkin dulu manusia sepertimu pernah tinggal di sana. Tapi aku tidak berbentuk manusia. Aku hanya titik yang bergerombolan dengan titik-titik yang lain.
, ,

Mematung


Aku sempat bertanya-tanya dengan apa yang berada di sampingku saat ini. Seperti benda mati, tetapi sangat menyerupai makhluk hidup. Jangan-jangan... ini kamu? Atau dia? Sepuluh menit lebih aku bergulat dengan perasaan dan pikiran . Berkarat dan gersang. 
"Apa ini? Ia memiliki mata!" seruku dalam hati. Benarkah itu mata? Tapi ia tak mengerling, tak sudi menatapku walau hanya sedetik saja.

Sabtu, 10 Desember 2016

, , , , , ,

Bayang-bayang Terakhir

 Oleh : Alvi Zahra Al-Alvia


Kulihat bayang-bayang muncul dari sebuah persegi tipis
tidak gelap, tidak putih
Kutengok kuperhatikan lamat
Ada keseruan, keramaian, dan kelucuan di sana
Bayang-bayangnya sungguh menghibur

Aku melihat bayang-bayang di lain waktu
Ada sentuhan, ada rayuan, ada pula kekerasan
Ingin segera kututup mata, tapi tak kuasa
Syaraf otakku terhipnotis olehnya

Jumat, 09 Desember 2016

, , ,

Keajaiban Tuhan


Saat aku tahu dokter mendiagnosisku terkena kanker kulit. Hatiku hancur lebur, aku jatuh sejatuh-jatuhnya. Bahkan, aku merasa aku orang yang paling sial di dunia.
“Kenapa harus aku, Tuhan?” gerutuku dalam hati.

Bahkan, berhari-hari aku tidak keluar kamar. Aku bertekad aku akan mewujudkan cita-citaku untuk mengunjungi tujuh keajaiban dunia sebelum aku mati. Ini memang konyol bukan? kebanyakan penderita kanker pasti sibuk mencari jalan alternatif pengobatan, bahkan ada yang mencoba bertaubat. Namun, tidak denganku. Aku harus berjuang melawan penyakit mematikan ini. Aku memang dikenal perempuan yang berani. Hobiku memanjat tebing-tebing yang curam, dan mendaki gunung. Aku tahu usiaku tidak lama lagi. 
, , ,

Butiran Tasbih Tukang Sapu



Aku di pinggiran jalan sendiri berdiri sambil menunggu bis. Sorot mataku lurus tertuju pada perempuan paruh baya di seberang jalan sana. Terlihat dengan khusyu' ia menyapu setiap lembaran sampah yang berserakan. Sesekali ia mengelap keringat di dahi dengan handuk kecil yang disampirkan di belakang leher.

Terik mentari yang menyengat tidak menghanguskan semangatnya. Ia selalu melempar senyum kepada orang-orang yang lewat. Kendaraan yang melaju begitu kencang seringkali membuat sampah-sampah yang telah dikumpulkannya kembali berhamburan. Wajahnya malah tersenyum. Ia mengumpulkan lagi satu-persatu sampah tadi dengan sapu lidi.
, , ,

Agama Baru

Ilustrasi, mencari yang baru, search image here.

"Berlutut!" kata Mia mengulangi disertai pandangan merobek jantung. "Berlutut dan meminta maaf di sana. Dengan begitu aku akan mengampunimu."
-
Mendapat tekanan besar, ditatap lurus seperti itu Mersi bergeming. 
-
"Kenapa? Kau merasa harga dirimu jatuh? Baiklah, kalau begitu aku akan membawa kasus ini ke pengadilan." 
Mersi menggigit bibir bawah, matanya memanas, perlahan ia menekuk kaki. Buku-buku jari miliknya terasa kebas, kemudian menjalar ke seluruh tubuh."