![]() |
Dokumentasi Pribadi |
Di sebuah desa tepatnya di desa Salam Kidul, Kudus, Jawa
Tengah, hiduplah sepasang suami istri, beliau ialah Bapak Mardikan beserta
istri tercinta Ibu Kamiseh. Bapak Mardikan mempunyai tiga orang anak, dua putra dan satu putri. Ketiga anaknya
telah menikah dan kini mereka telah memiliki kehidupan
masing-masing.
Di usia yang
menginjak senja, Bapak Mardikan dengan gigih tetap
mencari nafkah demi menyambung hidupnya. Beliau berprofesi
sebagai tukang becak.
Meski sudah tua,
becak usang yang dikayuhnya setiap hari masih sangat kuat untuk menopang beban
berat. Setiap hari becak dibersihkan dan dirawat agar memberikan kenyamanan
kepada penumpang nantinya. Setelah becak siap, lalu Pak Mardikan berangkat
mencari nafkah.
Bapak Mardikan
merupakan salah satu tukang becak yang masih bertahan hingga saat ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa transportasi becak mulai
kehilangan peminat di zaman modern ini. Namun, beliau tetap setia
melanjutkan profesi yang telah bertahun-tahun digelutinya
itu. Kurang lebih selama 25 tahun beliau menjalankan profesinya sebagai
tukang becak.
Sebelum beralih menjadi tukang becak, dahulu Bapak
Mardikan merupakan karyawan di sebuah pabrik percetakan, akan tetapi semua tak
berjalan lancar. Pabrik
tersebut bangkrut dan mengharuskan beliau untuk mencari pekerjaan baru. Hingga akhirnya beliau
menemukan pekerjaan yang kini ditekuninya hingga sekarang.
Di depan toko Mas Kupu atau di sekitar Pasar Kliwon
merupakan tempat pangkal becak milik Bapak
Mardikan. Di
tempat itulah beliau menunggu penumpang yang lalu-lalang ddi sekitar pasar. Biasanya
beliau mulai berangkat bekerja dari pukul sembilan pagi hingga empat sore. Penghasilan yang didapat pun tidak menentu, akan tetapi bagi beliau yang penting bisa cukup
untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama istrinya.
Ibu Kamiseh tentu sangat bersyukur mempunyai suami
yang sabar dan tegar seperti Bapak Mardikan. Bapak Mardikan tetap setia berada
di sisi Ibu Kamiseh yang selama kurang lebih tiga tahun ini menderita diabetes.
Beruntungnya beliau mempunyai kartu BPJS, setidaknya dapat meringankan biaya pengobatan sang istri.
Hanya iringan do'a yang kini menjadi harapan utama agar diberi kesembuhan serta
kekuatan.
Terkadang
mengeluh menjadi satu-satunya hal yang biasa dilakukan seseorang dalam kondisi
terpuruk. Namun, melihat perjuangan Bapak Mardikan, seorang pengayuh becak yang
masih tekun bekerja hingga di usia senja, merupakan suatu hal yang menjadi
inspirasi kita agar bisa menjalani hidup dengan kerja keras tanpa mengeluh dan jangan
menyerah selagi kita masih diberi kesehatan oleh Sang Pencipta. Luar biasa. Dua
kata yang menjadi perwakilan betapa hebatnya kehidupan seorang pengayuh becak
bernama Bapak Mardikan.
Penulis: Riza Maulida, Mahasiswi IAIN Kudus
0 komentar:
Posting Komentar