Minggu, 04 Desember 2016

, , ,

Amanita Muskaria

Ilustrasi Amanita Muskaria, search image here

Ia membanting pintu besi begitu lemah. Tidak ada suara keluar seperti desingan peluru. Wajahnya terlihat pucat bersamaan kantung mata coklat kehitaman. Ia berlari dengan tubuh limbung. Beberapa kali menoleh ke belakang. Seakan ada sesuatu menakutkan tengah mengejarnya.

Di pinggiran jalan ia berhenti. Lampu-lampu menggantung seolah menghakiminya. Warna api. Sangat panas. Dan ia merasa ciut jika tubuhnya terlumat di atasnya. Agak bingung. Sorot mata tak ubahnya lampu mercusuar—mengamati klub malam yang beberapa hari lalu ditutup paksa. Sebuah papan, agak samar terlihat seolah membuat dirinya—huruf-huruf itu bergerak sembarang.
, , , ,

Perempuan Cermin

Perempuan cermin, search image here

Aku sudah terbiasa hidup dalam cermin. Mulanya aku menggunakan cermin sebagai tempatku bersembunyi dari kemarahan Ayah. Ayah tidak dapat menemukanku di dalam cermin. Berbeda dengan Ibu, ia dapat melihatku. Dengan wajah penuh lebam Ibu menangis dan menyuruhku bersembunyi dalam cermin. Bahkan sebelum kematiannya Ibu berwasiat agar aku tetap hidup di dalam cermin, bersembunyi dari Ayah yang kejam. Mulai saat itu cermin menjadi rumah bagiku.

Aku menemukan segalanya dari cermin. Aku melihat semua kepura-puraan manusia dengan cinta rupa kata tak bermakna. Aku tertawa bak anak kecil yang bermain dengan kawan sebayanya. Melihat kelucuan manusia membuatku enggan keluar dari cermin. Aku juga enggan merasakan cinta yang kupercayai sebagai sebuah kebohongan. Aku tak ingin berjodoh sampai benar-benar kutemukan lelaki yang dapat menjadi cermin bagiku.

Kamis, 01 Desember 2016

Titi Mangsa



Kau tahu, belakangan ini aku bekerja keras melawan
Melawan rasa manja
Kusuruh wall facebook menyampaikan kepadamu
Meminta sejenak engkau pergi
Tapi tetap saja kau bandel, bergelayut melingkar di leherku
Seperti tangan kekasih hati yang rindu menahun tak kunjung berpaut
Kau merajuk tak mau tahu

Ya sudah, mau dikata apa lagi?
Aku menyerah
Kubiarkan saja mulutmu yang lembut terus berucap panas
Jangan aku kau tinggalkan, pintamu
Aku manja, yang membuat matamu sayu tanganmu lunglai dan nadimu berirama
Dangdut

Dung dung desss

Kembang kampung, 2 desember 2016