Oleh : Havidz Antonio
Allahuakbar.
Allahuakbar.
Dar.
Dar. Dar.
Allahuakbar.
Allahuakbar.
Gemuruh
teriakan dan jeritan riuh memekakkan telinga di padang rumput itu. Padang rumput yang kelabu tertimpa sinar
pucat cahaya
rembulan yang muram. Muram melihat kejadian di bawahnya. Mayat-mayat
bergelimangan seperti botol kecap yang tiarap dan tutupnya terbuka, mengalirkan
darah kental di tanah. Darah dari mayat syuhada’
dan para kompeni keparat itu.
Meskipun
hanya bersenjata seadanya—parang,
celurit, sundu dan bambu kuning yang diruncingi ujung-ujungnya—para pahlawan pertiwi berseragam hijau kacang kapri
itu, menggempur para kompeni tanpa rasa takut. Semangat mereka berkobar-kobar.
Prajurit-prajurit kompeni kewalahan. Kocar-kacir
mereka dihantam semangat para pejuang.
Seorang
jejaka pribumi bertempur dengan sangat hebat. Dengan semangat berkobar dia menghunuskan bambu
runcing pada setiap musuh di depannya. Kocar-kacir prajurit kompeni dibuatnya.
Namun, salah satu kompeni sedang membidiknya. Dan, daarr… Peluru meroket. Menelusup pas di jantung jejaka itu. “Allahuakbar!” Kata terakhir yang
dia ucapkan. Berhenti. Detak jantung merah putih itu berhenti. Mati.
Kemudian
semuanya gelap. Semu.
***
Aku
terbangun dari tidurku. Napasku terpacu seperti habis maraton di alun-alun kota
sebanyak sepuluh putaran tanpa berhenti. Keringat membanjiri tubuh. Aku
mendesah lirih.
“Astagfirullahaladzim.”
Ali,
teman sebangkuku memandangku aneh. “Kenapa,
Bar? Mimpi itu lagi?”
Aku
mengangguk lemah. Sungguh aneh, aku selalu memimpikan peristiwa itu. Dan selalu
terjadi pada hari-hari mendekati tanggal 10 November.
Mulai dari November pertama aku berada di Madrasah Aliyyah ini, hingga November
sekarang. November terakhir jika aku lulus dari sekolah.
Kuarahkan
pandangan ke penjuru kelas. Suasana ramai. Ada yang ngobrol, bergosib bahkan tidur (seperti aku tadi). Dan aku
bertanya-tanya,
apakah mereka yang tidur memimpikan hal yang sama sepertiku?
Sementara
itu,
kepalaku masih terasa pening karena mimpi tadi. Aku memandang jam di dinding.
Baru pukul 09:35. Waktu istirahat masih lama. Sementara aku sungguh ingin pergi
ke kantin
membeli minum. Kemudian,
kualihkan pandangan keluar jendela. Kebetulan bangkuku terletak di dekat
jendela lantai dua.
Rupanya
orang itu belum ada. Orang yang kata teman-temanku sinting. Aku pun beranggapan
demikian. Orang yang selalu berdiri tegak di depan tiang bendera sambil hormat
setiap hari-hari mendekati tanggal 10 November.
“Bar,
berhenti melamunnya. Tuh,
Bu Ida sudah datang,” kata Ali, menjawilku.
Bu
Ida, guru matematika memasuki ruangan.
“Selamat
pagi anak-anak. Ibu
minta maaf terlambat masuk kelas karena tadi ada yang harus diurus di kantor,”
kata Bu Ida. “Sekarang,
kita lanjutkan pelajaran. Buka halaman 141. Fungsi limit.”
Sebelum
membuka buku, sekali lagi aku memandang keluar jendela. Orang yang aku maksud
sudah berdiri tegak di depan tiang bendera sambil hormat.
***
Para
siswa dan guru tiada lagi. Tinggal aku, Ali dan orang gila itu. Aku memang
sengaja menunggu keadaan ini. Sejujurnya, aku sangat penasaran dengan orang
gila itu. Mengapa dia rela berpanas-panasan hanya untuk hormat pada tiang
bendera seperti orang upacara 17 Agustus? Padahal hari ini bukan tanggal Agustus.
Ini November. Dan mimpi itu juga terjadi pada waktu sama. November?
Aku
mengajak Ali mendekati orang gila itu. Ali bergeming.
“Ayolah, Al. Aku sangat
penasaran,”
kataku pada Ali dengan wajah yang kubuat sememelas mungkin.
“Kamu
sudah sinting, Bar?
kayak nggak
ada kerjaan aja.” Ali geleng-geleng kepala seakan melihatku sudah ikutan jadi
gila. “Lagian percuma saja.
Orang
gila itu tak akan memedulikanmu. Pak kepsek, Pak Bambang, Pak Sahal, tukang
kebun sekolah, semuanya dicuekin orang gila itu. Mungkin saja orang gila itu
bisu.”
Namun, rasa ingin tahu telah
membuatku keras kepala. “Apa salahnya dicoba?”.
Dan
akhirnya,
setelah perdebatan yang panjang,
sahabatku itu mau juga kugelandang mendekati orang gila itu. Ali mengikutiku
setengah hati. Ragu-ragu kami melangkah. Hingga sampai kami berada di belakang
orang gila itu.
“Permisi, Mas,”
kataku pada orang gila itu.
Tidak
di-respeck.
“Permisi, Bang,” kataku lagi.
Aku
masih dicuekin. Kujawil pundaknya karena tak sabar. Dia menatapku. Aku
terperanjat. Ali kaget mundur ke belakang. Sebelumnya aku tak pernah berada
sedekat ini dengang orang gila ini. Orang gila ini terlihat masih muda, mungkin
berumur 27 tahun. Terbalut baju compang-camping. Dan wajahnya penuh bekas luka.
Seram!
Aku
bingung mau berkata apa. Kemudian orang gila itu merogoh ke dalam kantong
celananya. Aku waswas, begitu juga Ali. “Eh, apa yang sedang dia rogoh, Bar?” bisik Ali.
“Entahlah, aku juga tidak tahu,” kataku berbisik.
“Kurasa
kita harus segera pergi,”
usul Ali.
“Sebentar
lagi,
Al.”
Aku
yakin dalam kantong celananya yang ciut itu tidak ada apa-apa. Namun ajaib! Sungguh aku
tidak menyangka dari dalam kantong celananya ada segumpal kain. Bendera merah
putih. Hah? Ya, dia mengeluarkan bendera
merah putih. Dan aku heran tak terkira orang gila ini memberikan bendera merah
putihnya itu kepadaku.
“Ambillah,” katanya dalam suara
berat dan serak. Sebetulnya aku juga merasa ada aura seram.
Aku
dan Ali mengamati bendera merah putih yang kini berada di tanganku. Kainnya
lusuh, banyak robekan-robekan kecil dan warna merahnya luntur menjadi pink. Bendera ini membuat perasaanku
tidak nyaman. Aku tidak bisa menafsirkannya seperti bagaimana. Aku mendongak
dan mau bertanya pada orang gila ini mengapa dia memberikan benderanya padaku.
Namun, aku termangu dalam tanda tanya besar. Orang gila itu sudah tidak ada.
Aku dan Ali saling berpandangan, langsung ngacir
ketakutan.
***
Malamnya,
kutaruh bendera merah putih menyedihkan itu di atas meja belajar. Kupandangi
terus bendera itu. Sementara udara dingin masuk melalui jendela, pikiranku
berkecamuk dalam ketidakpahaman. Dan semakin lama aku menatap bendera itu,
semakin aku merasakan sesuatu. Entahlah, aku juga tidak tahu seperti apa lebih
tepatnya.
Tiba-tiba
sesuatu terjadi. Secara misterius kata demi kata terangkai. Kata-kata itu
tertoreh di atas bendera merah putih itu. Seharusnya dalam detik ini juga aku
sudah menjerit. Aku menyaksikannya, sajak demi sajak tercipta. Dan semua itu
tertulis dengan… darah! Bayangkan! Darah!
Aku membaca
sajak-sajak itu.
Malam itu
Malam itu ramai
Bukan karena kukuk-kukuk burung hantu
Bukan juga karena lolongan serigala
Namun karena perang
Merah putih berkibar-kibar di udara
Orang-orang berteriak,“Negeri kita harus merdeka, ALLAHUAKBAR!”
Dan kupenggal leher para penjajah itu
Hingga merdekalah tanah kita
Soekarno-Hatta telah mengungumkannya
Namun aku masih terseok-seok dan tertatih
Hingga kini,
gedung-gedung menjulang tinggi
Hotel-hotel berbintang di sana-sini
Bioskop, stadion, dan jalan-jalan layang beranak,
bersama manipulasi, kolusi, korupsi, monopoli
Aku merintih
Aku menangis
Tak ada yang mengenal lagi
Tak ada yang peduli lagi
Yang kini tiada lagi
Setelah sebutir peluru itu menjatuhkanku
Dalam medan tempur itu
Aku telah melayang
Dalam sejarah berdebu
Demi dirimu
Kurelakan jiwa ragaku
Agar engkau bebas
Merdeka.
Tanah airku
Hah?
Apa ini? Puisi?
Aku
mencoba memahami setiap rangkaian kata di atas bendera merah putih. Mencoba
menghubungkannya dengan mimpi yang selalu kualami. Kesimpulnnya mulai jelas di
benakku. Mungkin sekolahku dulu adalah bekas medan perang. Dan mungkin orang
gila itu?
Sebuah
nama tertoreh di atas merah putih.
RAHAYU
Terperanjat.
Aku tahu nama siapa yang tertoreh
di atas merah putih. Nama nenekku. Ya, nama nenekku.
Tanpa buang waktu lagi kuambil bendera menyedihkan ini. Kumasukkan benda ini kedalam
tas cangklong hitamku. Segera aku pergi ke rumah Paman di desa sebelah. Nenek Rahayu
tinggal bersama Paman.
Usianya mau mencapai 70 tahun. Sementara Kakek
sudah lama meninggal.
***
Kulihat
Nenek
sedang duduk di kursi goyang sambil mendendangkan lagu gambang suling. Nenek
memang suka sekali dengan lagu-lagu tradisional.
Aku
sebenarnya kurang begitu suka dengan lagu semacam itu. Aku lebih suka musik modern. Namun, jika Nenek yang
menyanyikannya,
maka aku akan terbawa dalam alunan lagu jawa semacam itu seperti aku
mendengarkan thinking out loud-nya, Ed Sheeran.
Namun, kedatanganku ke sini bukan untuk
meminta dinyanyikan Nenek.
Segera aku menemui Nenek.
Kuucapkan salam. Kukecup tangannya. Kuambil bendera merah putih dari dalam tas
cangklong. Kuserahkan pada Nenek.
Nenek
tampak
terkejut. Mata di balik kacamata tuanya begitu sendu. Mulutnya tertutup. Yang
terjadi kemudian adalah hening. Hingga perlahan-lahan, sebutir air jatuh dari
pelupuk mata Nenek,
membasahi pipi Nenek
yang keriput. Dipeluknya bendera itu. Seolah bendera itu adalah sesuatu yang
dirindukan Nenek
sepanjang hidupnya. Semakin deras air mata terjatuh.
“Dia
berjanji akan menikahiku setelah pulang dari perang tapi dia tidak pernah
kembali. Aku bangga padanya yang dengan gagahnya membela tanah air.”
Mengalirlah
cerita Nenek.
***
Besok
paginya, aku menggali lubang di depan tiang bendera sekolah. Kupendam bendera
merah putih itu. Kemudian, aku berdoa untuk pemilik bendera merah putih
itu. Semoga pengorbanannya untuk tanah air di terima Tuhan. Dan pahlawan yang
tak pernah diketahui bangsa itu mendapatkan tempat yang layak di sisi Tuhan.
Amin.
Aku
berjanji tidak akan menyia-nyiakan pengorbanannya. Aku akan lebih giat belajar
supaya bisa berguna bagi bangsa tercinta ini.
***
Satu
tahun kemudian.
Hari
ini tanggal 10 November. Aku sudah
lulus. Aku sengaja mengunjungi sekolah ini. Aku
bertanya pada adik-adik kelas, kata mereka sudah tidak ada yang pernah melihat
orang gila atau pemuda compang camping atau pahlawan itu, yang berdiri di depan
tiang bendera sambil hormat setiap bulan November.